Batik berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax ) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna ( dye ), atau dalam bahasa Inggris “wax-resist dyeing”.
Batik saat ini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Untuk itu perlu adanya upaya pelestarian serta peningkatan kualitas batik. Salah satunya dengan menambah keragaman motif batik nusantara. Salah satu langkah untuk meningkatkan keragaman motif batik di tanah air adalah menciptakan motif kontemporer yang inovatif seperti aplikasi struktur anatomi. Berbagai struktur anatomi baik histologist, sitologis maupun organologi mahluk hidup memiliki nilai estetika yang dapat dijadikan sebagai motif batik. Sebagai contoh yaitu struktur aktinenkim Canna edulis, Spirogyra Sp., Stomata pada berbagai tumbuhan, sel parenkim, sel tulang gosok, sel darah, neuron dan sebagainya. Dari berbagai struktur anatomi tersebut memiliki potensi untuk dijadikan sebagai motif unik yang bernilai seni tinggi.